Cerita Dibalik Game Better Than Dead
Lo main sebagai seorang perempuan yang kabur dari jaringan human trafficking. Tanpa cutscene panjang, tanpa dialog bertele-tele, game ini langsung ngelempar lo ke situasi dan aksi.
Lo bangun di sebuah sel, ada pistol yang diselundupkan ke dalam. Dari situ lo kabur, dan balas dendam total ke seluruh jaringan yang udah ngehancurin hidup lo.
Yang bikin unik, lo bisa langsung ngerasain sendiri dari lingkungan sekitar. Lo masuk ke nightclub yang masih aktif, ke gang-gang gelap, ke rooftop, semua tempat itu bercerita lewat atmosfernya.
Bukan lewat teks atau cutscene. Efeknya justru lebih dapet, karena lo ngerasa beneran lagi ada di sana, bukan cuma nonton cutscene yang kadang malah bikin boring.
Grafisnya Hampir Realistis
Jujur, ini salah satu hal pertama yang langsung bikin gw bengong. Bangunan-bangunan di game ini detailnya gila!
Tekstur dinding, pencahayaan neon dari papan iklan, refleksi di lantai, gang sempit Hong Kong, semuanya keliatan hampir realistis.
Setting Hong Kong-nya juga dipilih dengan baik. Restoran, nightclub, gudang tua, rooftop kumuh, tiap level punya karakter visualnya sendiri dan semuanya berasa seperti lokasi syuting film aksi beneran.
Abis main game ini bawaannya pengen uninstall Rainbow Six Siege! Karena game Better Than Dead ini dibuat oleh satu orang, solo developer, tapi bikin puas banget!
Shootingnya Nggak Ada Crosshair, Recoil-nya Edan!
Ini bagian yang paling gw suka, sekaligus yang paling bikin gw pengen gebrak meja. Nggak ada crosshair sama sekali, dan recoilnya berasa banget kayak real!
Lo gak akan nemu titik merah atau lingkaran kecil di tengah layar yang biasa jadi patokan. Lo harus beneran ngarahin tembakan berdasarkan mata lo dan posisi tangan karakter. Persis kayak beneran lagi pegang pistol in real life.
Kamera juga terus bergerak, gak pernah stabil. Itu bukan bug, itu bagian dari desain game. Kamera goyang karena sang karakter gemetar, tegang, dan takut. Dan karena lo main dari sudut pandang bodycam, semua itu ikut lo rasain.
Kalau lo kena tembak layar langsung penuh cipratan darah, gerakan lo melambat, dan ngarahin tembakan yang emang udah susah jadi jauh lebih susah lagi. Gw suka banget sama konsep ini.
Yang bikin semua ini masih bisa dimainkan adalah mechanic “bullet time”. Pas lo slide, waktu melambat sejenak mirip Max Payne, tapi lo slide ke depan bukan loncat ke samping.
Di momen itulah lo punya celah untuk ambil napas, pilih target, dan beresin lebih dari satu musuh sekaligus. Tanpa bullet time ini tetap tergantung akurasi lo. Kalau aim lo kacau ya bullet timenya kebuang sia-sia.
Tiap Level adalah Misi, Tiap Misi Serunya Nambah
Struktur gamenya simpel: tiap level punya satu atau dua objektif jelas, bunuh bos, selamatkan korban, atau kabur dari lokasi sebelum semuanya ancur.
Di akhir tiap level lo dapet performance summary kayak berapa lama waktu yang lo habiskan, berapa musuh yang lo beresin, dan berapa warga sipil yang kena peluru lo secara gak sengaja (ini yang bikin deg-degan).
Ada ranking-nya juga, jadi selalu ada alasan buat replay level yang sama sampai bener-bener rapi.
Yang Bikin Gw Bilang ‘Why?’
Wajah karakter dan beberapa elemen visual di game ini disensor atau diblur. Gw ngerti alasannya, temanya memang berat dan sensitif, dan pilihan ini masuk akal.
Tapi kalau gak disensor, level immersion-nya bakal jauh lebih tinggi lagi. Bukan masalah besar sih, cuma sesuatu yang buat gw pribadi kurang enak dipandang aja.
Catatan
Better Than Dead rilis di Steam Early Access tanggal 12 Mei 2026 dengan harga sekitar Rp 220 ribuan. Versi sekarang punya 14 level dan bisa kelar dalam 1-2 jam.
Ada beberapa bug kecil yang masih muncul, physics mayat yang kadang aneh, sesekali nyangkut di sudut ruangan, dan satu dua invisible wall yang ganggu. Wajar untuk game Early Access, tapi worth disebut biar lo gak kaget.
Yang bikin lebih optimis itu developer-nya aktif baca feedback di Steam dan Discord, dan udah confirm bakal terus nambahin konten dan polish sampai versi 1.0. Potensinya gede nih game ini.
Dimana Gw Bisa Mainin Game ini?
System Requirements
Minimum:
- OS: Windows 10 64-bit
- Processor: Intel Core i5-9400/AMD Ryzen 5 2600
- Memory: 16 GB RAM
- Graphics: NVIDIA GeForce GTX 1660 Ti (6 GB)/AMD Radeon RX 590 (8 GB)
- Storage: 15 GB available space